track-10-cetak-biru-kapur-tulis-dan-komedi-gipsum-diy
Urusan tukang bangunan harian selesai, selanjutnya giliran anak-anak Uprealband dan kru yang mengambil alih total proyek ini. Orang-orang seperti Opang, Dewa, Temmy, Obhik, Gerry, Bany, dan yang lainnya mulai bahu-membahu turun tangan, siapa saja yang punya waktu luang langsung merapat untuk mewujudkan studio ini. Satu hal yang paling diingat adalah metode perencanaan mereka yang sangat manual. Tanpa bantuan arsitek atau aplikasi desain, mereka cuma mengandalkan alat seadanya seperti tali, meteran, dan goresan kapur tulis di atas lantai.
Namun anehnya, meski modalnya serba terbatas, isi kepala mereka saat itu sudah memikirkan konsep tata ruang ala studio rekaman profesional. Lewat garis-garis kapur di lantai, mereka sudah merancang dengan detail mana ruangan khusus untuk take vokal, mana ruangan untuk operator, mana ruang tunggu buat personel band saat sesi rekaman berlangsung, hingga area ruang utama tempat semua alat musik berdiri tegak. Bahkan, mereka sudah memikirkan jalur instalasi kabel dan merencanakan pintu masuk utama menggunakan sistem dua lapis pintu demi meredam kebocoran suara ke luar.
Pada akhirnya, seluruh pengerjaan interior studio dilanjutkan tanpa menyewa jasa tukang profesional satu pun. Semuanya benar-benar dikerjakan sendiri oleh tangan-tangan amatir mereka. Di tengah kerja keras itu, lahir sebuah kejadian paling lucu yang terus dikenang secara turun-temurun sampai buku ini ditulis.
Momen itu adalah saat Obhik dengan polosnya memotong papan gipsum menggunakan gergaji biasa layaknya sedang memotong balok kayu. Di sebelahnya, Gerry sibuk mengipasi debu putih hasil potongan gipsum menggunakan selembar karton bekas yang ada di dekatnya, supaya debu tebal itu tidak menutupi garis pandang potong. Perlu diingat, ini adalah akhir tahun 2004, era di mana platform YouTube bahkan belum lahir ke dunia karena baru muncul di tahun 2005. Jadi, aksi nekat mereka murni bermodalkan logika dasar dan keberanian insting anak band. Uniknya, momen potongan gipsum legendaris ini ternyata sempat terdokumentasikan lewat rekaman lensa kamera handycam jadul, yang arsip video lawasnya kini sudah diunggah dan bisa ditonton di YouTube (Momen Potong Gipsum Uprealband 2004) saat buku ini ditulis.
Lalu, apakah urusan penataan interior yang rumit ini bisa mereka selesaikan sampai tuntas? Termasuk bagaimana cara mereka merancang sistem peredaman suara dengan dana yang pas-pasan tanpa bantuan ahli akustik?
Wah, ceritanya bikin makin penasaran, kan? Simak halaman berikutnya....
Navigasi Track
⬅️ Track 09 - Renovasi DIY Studio Musik Uprealband Tsunami Aceh 2004 🏠 Kembali ke Beranda
