track-09-renovasi-diy-studio-musik-uprealband-tsunami-aceh-2004
Selang beberapa hari kemudian, Babe menghampiri Bany lalu melempar proposal itu tepat ke dada Bany sambil berkata, “Boleh pakai kontrakan sebelah untuk studio, tapi inget, jangan pakai duit babe!!”
Saat itu, Bany masih bengong dan setengah gak percaya kalau proposal nekatnya benar-benar disetujui. Sore atau malamnya, Bany langsung membagikan kabar baik itu ke anak-anak di kontrakan sablon. Bany agak lupa siapa saja yang berkumpul waktu itu, tapi mereka sempat heran dan bertanya-tanya kenapa proposal itu bisa tembus. Dokumen fisik proposal itu dikembalikan Babe ke tangan Bany dan langsung dibawa ke markas sablon sebagai bukti legalitas mereka, meskipun pada saat itu kondisi kontrakan sebelah sebenarnya masih dalam status tersewa oleh orang lain.
Begitu masa sewa penghuni lama berakhir, anak-anak Uprealband langsung menggelar rapat kecil untuk memulai langkah pembangunan. Guna menghemat pengeluaran karena dana yang terbatas, mereka sepakat melakukan pengiritan maksimal. Untuk urusan pembongkaran struktural, mereka memercayakannya kepada tukang bangunan harian yang kebetulan adalah ayahnya Wawan (kakaknya Rini). Tugas tukang sengaja dibatasi agar hemat: hanya membongkar jendela depan kontrakan lalu menutup total bagian itu dengan tembok bata. Pekerjaan tukang ini terhitung cepat dan gak sampai memakan waktu berhari-hari.
Pada masa pengerjaan awal itu, Bany sendiri masih bekerja di Jakarta, jadi dia hanya bisa memantau langsung pada hari Sabtu dan Minggu, atau pulang mendadak jika ada urusan darurat. Jon juga sudah bekerja di Jakarta sebagai pialang saham di Wisma 77, namun dia memilih untuk selalu pulang-pergi setiap hari kerja antara kantor dan rumah Babe di Depok.
Pengerjaan fisik studio itu pertama kali dieksekusi tepat pada tanggal 26 Desember 2004. Karena di dalam kontrakan memang tidak ada fasilitas TV dan kondisi aliran listrik juga sengaja dipadamkan selama renovasi, anak-anak Uprealband sama sekali gak tahu kalau di belahan Indonesia lain sedang terjadi musibah besar Tsunami Aceh. Mereka baru menyadari skala bencana dahsyat itu beberapa hari kemudian.
Selama tukang sibuk menjebol dan menembok dinding, anak-anak Uprealband dan kru bergerak lincah mengamankan seluruh peralatan sablon ke tempat yang aman agar tidak terkena debu bangunan. Aset berharga seperti satu set drum dan perlengkapan lainnya ikut digeser. Salah satu langkah taktis mereka saat itu adalah mengalihkan fungsi toilet di sekat kontrakan yang bakal jadi studio untuk disulap menjadi gudang dadakan penyimpan stok sablon.
Kalau melihat ke belakang, perjalanan mereka memang kelihatan selalu beruntung dan mulus sampai sulit dipercayai. Namun, tantangan sesungguhnya baru saja dimulai. Setelah tukang pergi dan dinding luar sudah tertutup rapat, lalu siapa yang bakal melanjutkan membangun bagian dalam studionya? Apakah anak-anak Uprealband sendiri yang harus turun tangan melanjutkannya secara DIY?
Simak halaman berikutnya....
Navigasi Track
⬅️ Track 08 - Strategi Proposal Studio Musik dan Negosiasi Babe 🏠 Kembali ke Beranda