PERJALANAN UPREALBANDDOCUMENTATION · DEPOK · SINCE 2004
BAB 12 / 31PERJALANAN UPREALBAND
TRACK 12

track-12-instalasi-kabel-canare-dan-perakitan-audio-diy

Hari demi hari berlalu, pengerjaan interior studio merangkak maju. Namun di tengah jalan, anak-anak Uprealband baru menyadari kalau kebutuhan konsumsi lem kuning ternyata membengkak drastis. Berkaleng-kaleng lem ukuran besar habis terpakai sampai mereka harus bolak-balik beli melulu. Menghadapi situasi darurat ini, Bany dan Jon akhirnya nekat membongkar tabungan pribadi mereka demi menyuntik dana tambahan. Pelan tapi pasti, wujud studio sudah mulai terbentuk, meskipun memang belum bisa langsung digeber untuk latihan.

Secara visual, studio ini sudah terlihat meyakinkan. Terdapat sebuah jendela kaca bening dua lapis yang membatasi ruang operator dengan ruang studio utama, sehingga dari arah meja operator bisa langsung memandang bebas ke dalam ruangan rekam. Saat mulai menyusun instalasi audio, Obhik memberikan saran saklek agar mereka tidak pelit soal kualitas kabel demi menghindari storing dan gangguan sinyal. Pilihan akhirnya jatuh pada merek Canare buatan Jepang, mulai dari komponen jack hingga kabel-kabelnya. Demi mendapatkan barang ori, mereka berangkat langsung ke daerah Pinangsia. Seingat Bany, di sana mereka membeli satu rol penuh kabel Canare ukuran kecil beserta tumpukan jack-nya. Perlu diingat, di tahun 2004 itu layanan ojek online maupun platform belanja daring belum ada sama sekali, jadi urusan angkut barang berat ya harus modal otot sendiri.

Sementara untuk urusan daya sound, Gerry menawarkan solusi taktis. Dia punya teman yang jago merakit amplifier sesuai kebutuhan studio. Gerry langsung menghubungi temannya itu dan sepakat untuk dibuatkan amplifier kustom. Tidak mau kalah, Obhik juga turun tangan merakit sendiri beberapa speaker yang bakal difungsikan sebagai monitor studio.

Urusan kabel-kabel audio yang melintang diatur dengan sangat rapi. Sebelum area lantai ditutup total dengan papan multipleks, kabel-kabel tersebut diselipkan di sela-sela pinggiran rangka bawah. Sebagian kabel lainnya disembunyikan dengan rapi di sudut pertemuan antara lantai dan dinding, lalu ditutup manis menggunakan list plang kayu.

Dengan modal nekat, tabungan yang terkuras, serta kombinasi kabel premium Jepang dan hardware rakitan lokal, bagaimanakah kualitas suara studio swadaya milik mereka ini saat pertama kali dinyalakan nanti?

Yuk, intip kelanjutannya di halaman berikutnya....


Navigasi Track

⬅️ Track 11 - Eksperimen Pasir Goreng dan Peredam Dinding DIY Studio Musik 🏠 Kembali ke Beranda