track-13-up-real-studio-dan-logo-di-atas-lantai
Hari demi hari berlalu. Setelah karpet merah marun berhasil dipasang, pekerjaan berikutnya adalah melapisi lantai dengan pernis. Waktu itu pernis dua komponen anti gores belum populer seperti sekarang, jadi mereka memakai pernis kayu biasa yang banyak dijual di toko bangunan terdekat.
Namun sebelum tahap finishing dimulai, Bany, Jon, dan Gerry sempat mengadakan rapat kecil untuk menentukan nama studio. Ya walaupun dari awal tempat itu memang dirancang untuk menjadi studio rekaman, mereka sadar dana yang ada belum cukup. Mau tidak mau, semuanya harus dilakukan bertahap. Studio latihan dulu, urusan studio rekaman dipikirkan belakangan.
Saat itu nama Uprealband sendiri belum dikenal siapa-siapa. Manggung bersama Apoy pun belum sempat dilakukan karena sang drummer baru itu langsung mudik. Karena nama Uprealband belum punya nama, tercetuslah ide sederhana. Kenapa tidak sekalian "numpang tenar" lewat nama studio latihan ini? Akhirnya diputuskanlah nama "UP-REAL Studio".
Bany dan Jon lalu berpikir, kalau sudah punya nama, masa lantainya polos begitu saja? Akhirnya mereka sepakat membuat logo besar tepat di tengah ruang studio utama. Keduanya pun berburu cat ke toko bangunan modern. Bany masih ingat ada cat unik yang beberapa saat setelah kering akan menghasilkan efek retak-retak. Kalau dilihat sekarang mungkin orang-orang akan menyebutnya keren atau estetik, hihi.
Akhirnya sebuah lambang @ berukuran cukup besar berwarna kuning menghiasi lantai, dengan tulisan UP-REAL berwarna biru di bagian tengahnya. Setelah semuanya kering, lapisan pernis bening kembali diberikan sebagai pelindung terakhir. Dan uniknya, hingga buku ini ditulis, logo itu masih tetap ada.
Sementara itu, bagian ruang tamu studio juga mulai dipercantik sedikit demi sedikit. Suatu hari, teman Dewa datang menawarkan poster-poster musik yang sudah dibingkai. Ada Iwan Fals, Slash dari Guns N' Roses, sampai Robert Smith dari The Cure. Bany langsung membelinya dan memasangnya di ruang tamu. Lumayan, jadi tidak terlalu polos.
Untuk dindingnya, Bany teringat sebuah buku yang pernah dibelinya tentang cara-cara kreatif menghias rumah dengan biaya murah. Dari situ muncul ide memanfaatkan sisa kompon gipsum. Guratan-guratan tipis dibuat secara acak di beberapa bagian dinding. Lucunya, ketika terkena cahaya, muncul bayangan-bayangan yang justru membuat dinding terlihat lebih hidup.
Dokumentasi
Proses pembangunan @up-real Studio tahun 2005.
kiri-kanan : Bany, Jon, Opang, Ipel (kapos hitam) Dewa (kaos merah, Temmy foto menikmati masakan emaknya bany, begini suasana gotong royong saat itu - 27 Maret 2005
Jadilah ruang tamu studio yang tadinya biasa saja mulai terasa seperti markas anak band. Ada poster musik, ada dinding dengan tekstur buatan tangan, pokoknya sedikit demi sedikit suasananya mulai terasa berbeda.
Kini nama UP-REAL Studio sudah terpampang, logo besar di tengah lantai pun sudah selesai dibuat. Sedikit demi sedikit, markas impian mereka mulai terlihat seperti studio sungguhan. Namun, sebelum sempat memikirkan urusan rekaman, para teman dan musisi mulai berdatangan untuk melihat markas baru tersebut.
Seperti apa reaksi mereka ketika pertama kali menginjakkan kaki di UP-REAL Studio?
Yuk, intip kelanjutannya di halaman berikutnya....
Navigasi Track
⬅️ Track 12 - Kabel Pinangsia dan Amplifier Rakitan (tautan navigasi tidak aktif pada tampilan ini)
🏠 Kembali ke Beranda