PERJALANAN UPREALBANDDOCUMENTATION · DEPOK · SINCE 2004
BAB 17 / 31PERJALANAN UPREALBAND
TRACK 17

track-17-Suzuki-Tornado-2-tak-dan-studio-yang-akhirnya-jalan

Semua akhirnya sudah terpasang. Anak-anak Uprealband dan crew pun mulai memikirkan bagaimana caranya supaya studio yang susah payah mereka bangun itu bisa dikenal orang. Akhirnya dibuatlah selebaran sederhana hasil fotokopian.

Kebetulan lokasi studio memang dekat dengan beberapa sekolah, mulai dari SMP sampai SMA. Bahkan salah satunya adalah sekolah tempat Bany dan Gerry dulu pernah menuntut ilmu. Selebaran-selebaran itu pun dibagikan saat jam pulang sekolah.

Dan ternyata cara sederhana itu cukup berhasil. Seingat Bany, ada beberapa band anak SMU yang akhirnya datang dan mencoba latihan di UP-REAL Studio.

Sesuai rencana yang sudah dibahas sebelumnya, sebelum masuk studio para penyewa langsung disuguhi air mineral gelas. Lalu saat mereka masuk, bumper musik yang dibuat Obhik diputar terlebih dahulu. Begitu para personel sudah siap memainkan alat musiknya, bumper pun dimatikan.

Dewa saat itu sudah ikut membantu menyiapkan kebutuhan para penyewa. Mulai dari menemani setting alat, colok-colok jack, sampai menyalakan AC. Pokoknya Dewa sudah seperti operator studio juga, hehehe...

Saat itu sistem penghitungan jam masih dilakukan secara manual. Baik di ruang operator maupun di dalam studio dipasang jam dinding dengan waktu dan detik yang sama. Jadi gampang memantau waktu latihan.

Di dalam studio juga disediakan tombol bel untuk memanggil operator kalau ada kendala. Ya maklum, zaman itu belum ada aplikasi booking, belum ada WhatsApp, bahkan smartphone pun belum seramai sekarang.

Dan pelan-pelan, studio mulai berjalan sebagaimana mestinya.

Bany juga masih ingat melihat band-band yang datang latihan mengisi biodata di kertas yang telah disediakan. Nama band, nomor telepon, alamat, semuanya ditulis tangan. Yang tadinya cuma ide waktu rapat kecil, sekarang benar-benar dipakai.

Kadang-kadang Bany, Gerry, dan Jon suka ketawa sendiri melihat semua itu. Maksudnya, mereka seperti tidak percaya kalau studio yang dibangun dengan modal nekat akhirnya benar-benar berjalan dan berfungsi, hihihi...

Suatu hari Bany berkata,

"Ger, lu ingat gak kita dulu pernah mau latihan, jaman ngeband masih sama Aqew itu lho?"

Gerry langsung ketawa.

"Iya gue inget. Kita udah bela-belain ke sana pakai motor bertiga boncengan, hujan-hujan pula. Eh sampai sana penjaga studionya malah bilang, 'aduh mas, sudah tutup!!!' sambil nutup rolling door, wkwkwk..."

Jon yang mendengar itu langsung ikut nimbrung.

"Iyak. Pakai motor andalan gue, Suzuki Tornado 2-tak hijau ala Satria Baja Hitam, hahahahaha..."

"Banyak jasanya itu motor," timpal Gerry sambil tertawa.

Bany pun ikut menambahkan.

"Mungkin kalau bisa teriak, teriak kali itu motor, hahaha... Sudah bodinya berisik banget, rantainya kadang copot lagi, hahahaha..."

Dan mereka pun tertawa bersama.

Lucunya, dulu mereka pernah kehujanan dan pulang dengan kecewa karena gagal latihan di studio orang lain.

Sekarang, tanpa disangka-sangka, justru mereka sendiri yang memiliki studio latihan. Bahkan sudah ada anak-anak band yang datang untuk berlatih di tempat mereka.

Siapa sangka, motor Shogun 2-tak hijau yang dulu setia mengantar mereka mencari studio, kini hanya menjadi bahan nostalgia yang selalu mengundang tawa.

Namun, perjalanan UP-REAL Studio ternyata baru saja dimulai. Karena setelah itu, satu per satu band, musisi, dan berbagai kejadian unik mulai berdatangan.

Dan beberapa di antaranya, bahkan masih diingat oleh anak-anak Uprealband hingga hari ini.

Yuk, intip kelanjutannya di halaman berikutnya....

Navigasi Track

⬅️ Track 16 - Papan Nama UP-REAL Studio

🏠 Kembali ke Beranda