PERJALANAN UPREALBANDDOCUMENTATION · DEPOK · SINCE 2004
BAB 31 / 31PERJALANAN UPREALBAND
TRACK 31

track-31-jammin-on-the-street

Track 31

Malam itu akhirnya tiba.

Jammin On The Street yang kedua resmi digelar.

Uprealband dan crew juga sibuk membawa kaos-kaos yang sudah disablon dan rencananya akan dijajakan di event tersebut.

Selepas Isya, acara pun dimulai.

Tidak ada panggung tinggi.

Tidak ada lampu yang berlebihan.

Semuanya benar-benar melantai di pelataran luas di depan deretan ruko di pinggir Jalan Margonda Raya.

Di belakang para musisi hanya terbentang sebuah kain hitam sederhana.

Di atasnya tertulis www.anakband.com. sebagai catatan hingga buku ini di tulis tidak begitu tahu itu website tentang apa, karena belum sempat mengunjunginya.

Dan di bawahnya tertulis:

Jammin On The Street.

Tulisan tersebut sepertinya hanya dibuat menggunakan kuas cat atau pilox saja.

Suasananya lebih mirip tongkrongan besar daripada sebuah konser.

Lia malam itu bertugas sebagai MC.

Satu demi satu band tampil membawakan karya mereka masing-masing.

Dan seperti kebanyakan tongkrongan musisi, sebagian orang lebih sibuk mengobrol dengan teman-temannya.

Padahal saat itu handphone sudah ada, walaupun belum berupa telepon pintar seperti sekarang.

Namun perhatian orang memang kadang mudah terpecah.

Ketika giliran Uprealband tampil, entah mendapat keberanian dari mana, Bany malah berorasi kepada orang-orang yang ada di depannya.

Bany saat tampil di Jammin On The Street II, 28 Mei 2005.

Di tangannya masih terlihat secarik kertas berisi ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat dalam acara tersebut.

Jammin On The Street II

"Please dong..."

"Kalau ada yang manggung, saling dukung."

"Ngeband itu nggak mudah."

"Jujur aja gue nggak jago nyanyi."

"Tapi kalau bikin lagu, ayok deh."

"Jadi please dong, yuk saling menghargai kalau ada yang lagi manggung."

"Dukunglah dengan menonton dan menyimaknya."

Sesaat suasana sempat terasa canggung.

Namun tiba-tiba dari tengah kerumunan terdengar seseorang berteriak,

"Gue suka gaya lu, Bro!"

"Lanjutkan!"

Suasana yang semula menggantung mendadak berubah menjadi lebih hangat.

Di samping Bany, Gerry yang memang bertubuh paling tinggi dan paling berisi di antara personel lainnya sempat berbisik pelan,

"Kacau lu."

"Tapi gue bakal pasang badan kalau lu diapa-apain."

Untungnya tidak terjadi apa-apa.

Tidak ada keributan.

Malah suasana menjadi semakin cair.

Sementara itu, Apoy yang duduk di belakang drum malam itu mengenakan kaus hitam polos dan topi bermotif army.

Apoy saat tampil di Jammin On The Street II tahun 2005.

Masih khas anak-anak yang mengerjakan semuanya sendiri.

Sedangkan Gerry malam itu memainkan bass Maison milik Jon.

Bass tersebut dibeli Jon dalam kondisi bekas.

Dan seperti banyak peralatan Uprealband lainnya saat itu, alat musik yang digunakan memang bukan perlengkapan mewah.

Apa yang ada, itulah yang dipakai.

Hahaha...

Jon di Jammin On The Street II 2005

Ketika lagu "Yang Khan Abadi" dimainkan, Bany memberi kode kepada personel lainnya untuk memperpanjang bagian reff.

Dan mereka langsung mengerti.

"Yang khan abadi..."

"Yang khan abadi..."

Berulang-ulang.

Karena memang tidak ada panggung.

Tidak ada jarak.

Beberapa penonton duduk bersila di depan.

Sebagian jongkok dengan santai.

Ada yang bersandar di rolling door ruko.

Ada yang berdiri sambil mengobrol.

Dan suasananya lebih menyerupai tongkrongan besar daripada sebuah konser.

Awalnya hanya beberapa orang yang ikut bernyanyi.

Namun perlahan jumlahnya semakin banyak.

Bahkan beberapa rombongan pengendara motor yang melintas ikut memperlambat laju kendaraannya.

Mereka meminggirkan motor.

Mematikan mesin.

Lalu ikut mendekat.

Awalnya hanya melihat.

Kemudian ikut menganggukkan kepala mengikuti irama.

Dan akhirnya mereka pun ikut bernyanyi.

"Yang khan abadi..."

"Yang khan abadi..."

Semakin lama semakin banyak.

Dan akhirnya suasana mencapai puncaknya.

Dengan suara yang semakin keras, orang-orang bersama-sama bernyanyi:

"YANG KHAN ABADIIIIIII...!!!"

Tepuk tangan langsung pecah.

Gelak tawa terdengar di mana-mana.

Melihat suasana tersebut, Bany spontan menundukkan badan hampir seperti bersujud.

Dengan penuh rasa syukur ia berteriak,

"TERIMA KASIH!"

Lalu dengan napas yang masih tersengal karena terlalu bersemangat, Bany kembali berteriak,

"GITU KHAN ASIKKKK!"

Dan kalimat sederhana itu justru disambut gelak tawa oleh semua orang yang masih berada di pelataran pinggir Jalan Margonda malam itu.

Tidak ada yang menyangka.

Di bawah selembar kain hitam sederhana bertuliskan Jammin On The Street, salah satu keyakinan terbesar Uprealband terhadap karya-karya mereka sendiri sedang tumbuh.

Hahaha...

Kalau lagu-lagu lain yang dibawakan Uprealband malam itu, Bany sendiri sudah lupa.

Terkait kaos, memang ada beberapa yang berhasil terjual, namun tidak habis seluruhnya.

Sebagian malah dipakai oleh panitia.

Dan saat tampil malam itu, Bany sendiri mengenakan kaos Jammin On The Street berwarna putih dan memakai topi hitam.

Dan mungkin tidak ada yang menyangka, kaos sederhana hasil sablon sendiri, yang awalnya hanya dibuat untuk meramaikan acara, puluhan tahun kemudian justru ikut menjadi bagian dari kenangan malam yang tidak pernah dilupakan oleh Uprealband.

Hahaha...

Dan lucunya, kalau melihat dokumentasi acara tersebut, ternyata Obhik juga ada di sana.

Padahal, sosok Obhik termasuk orang yang jarang keluar rumah.

Hahaha...

Obhik bersama teman-temannya sekitar tahun 2005. Sosok yang dikenal jarang keluar rumah itu ternyata ikut hadir pada malam Jammin On The Street.

Obhik bersama teman-temannya sekitar tahun 2005 foto : kiri-kanan : Opang, Ipel (temannya obhik), Jon (dibelakang Ipel), Obhik, Aga Maulana, Anus (om-nya Apoy dibelakang aga, yg memakai jaket warna Biru)

Dan Anus, Om-nya Apoy yang dulu merekomendasikan Apoy sebagai drummer Uprealband, ternyata juga ikut menonton malam itu.

Saat buku ini ditulis, Anus sendiri sudah meninggal dunia.

Dan mungkin karena itulah, Jammin On The Street bukan sekadar acara musik.

Tetapi lebih seperti malam ketika banyak orang yang ikut mewarnai perjalanan Uprealband berkumpul dalam satu tempat.

Dan tanpa disadari, salah satu keyakinan terbesar Uprealband terhadap karya-karya mereka sendiri sedang tumbuh.

Hahaha...

Dan kejadian ketika para penonton ikut bernyanyi bersama malam itu selalu menjadi bagian dari cerita yang diceritakan kembali saat Uprealband menyusun profil band pada tahun-tahun berikutnya.

Karena bagi Uprealband, momen itu menjadi salah satu bukti bahwa lagu-lagu mereka ternyata pernah diterima dan dinyanyikan bersama oleh orang-orang yang bahkan sebelumnya tidak mereka kenal.

Hahaha...

Ironisnya, lagu "Yang Khan Abadi" yang malam itu membuat banyak orang ikut bernyanyi, justru belum pernah digarap secara serius.

Bahkan baik versi rekaman live maupun recording studio yang layak pun belum pernah dibuat.

setelah manggung itu, bany inget sempat di tanya oleh Lia "ban.. kok bisa begitu ya ? padahal gue kuliah ilmu komunikasi lho?" saat itu bany jawab "duh gue jg gak tau" namun bany emang ingat, sejak 2004 dirinya udah membaca bukunya dale carnegie, namun apakah pengaruh dari itu atau tidak bany kurang tahu. Dan mungkin memang tidak semua hal harus memiliki penjelasan.

Karena terkadang, beberapa hal hanya terjadi begitu saja.

Dan salah satunya mungkin adalah malam ketika orang-orang yang sebelumnya tidak dikenal, tiba-tiba ikut bernyanyi bersama:

"YANG KHAN ABADIIIIIII...!!!"

Hahaha...

dibawah ini juga menggambarkan era itu, pelatran jalan margonda, ada telepon umum, di pojok kiri ada 3 orang cowok, yang paling kiri namanya Ipel (temannya Obhik), obhik di tengah sedang setting handcame, sedangkan di kanan Obhik itu Temmy Crew dokumentasi / handycame uprealband di bagian tengah gambar ada sosok wanita namanya Novi, sering dipanggil Butet, rumahnya diseberang Studio (hadap2an dengan studio) di sebelahnya AAL kakaknya Dewa

Jammin On The Street 2005