PERJALANAN UPREALBANDDOCUMENTATION · DEPOK · SINCE 2004
BAB 04 / 31PERJALANAN UPREALBAND
TRACK 04

track-04-workshop-kontrakan-dan-experimen-absurd

Tahun 2004. Buku panduan sablon yang dibeli Bany langsung ditaruh di atas meja. Malam itu, tiga isi kepala, yaitu Bany, Obhik, dan Jon, fokus ngoprek isi buku tersebut. Mereka mempelajari istilah-istilah asing seperti afdruk, emulsifier, dan tebal-tipisnya kain screen.

Bany dengan sigap mencatat daftar barang yang harus dibeli, dan keesokan harinya mereka langsung berburu perlengkapan.

Tahun 2004 jangan dibayangkan seperti sekarang. Belum ada internet di genggaman, belum ada Google Maps untuk penunjuk jalan, dan belum ada layanan pesan antar instan. Semua dilakukan secara manual dengan mengandalkan ingatan dan informasi dari mulut ke mulut.

Seingat Bany, setelah muter-muter mencari jalan, mereka akhirnya menemukan toko perlengkapan sablon di kawasan Akses UI, Depok. Lokasinya tidak jauh dari pom bensin yang ada saat itu. Di sana mereka membeli screen, rakel, dan beberapa botol tinta sebagai modal awal.

Untuk urusan media uji coba, mereka tidak mau mengeluarkan modal besar terlebih dahulu. Beruntung, Emak mereka saat itu membuka jasa menjahit di rumah. Bany pun meminta sisa-sisa kain bekas potongan jahitan untuk dijadikan media eksperimen sebelum diaplikasikan ke kaos yang sebenarnya.

Pas lagi seru-serunya belepotan tinta di halaman rumah, datanglah Wawan, tetangga depan rumah Bany, yang saat itu sedang membawa temannya bernama Dewa. Dewa, yang ketika itu berprofesi sebagai pengamen jalanan, langsung tertarik melihat kesibukan absurd anak-anak Uprealband.

Alih-alih hanya menonton, Dewa justru ikut nimbrung dan membantu proses gesut-menggesut kain perca tersebut.

Melihat antusiasme yang semakin besar, Obhik yang memang berjiwa tukang ngoprek langsung turun tangan lebih dalam. Ia bahkan merakit sendiri sebuah meja sablon manual lengkap dengan kaca dan lampu neon di bawahnya untuk proses tembak film afdruk.

Lama-kelamaan, halaman rumah mulai berubah menjadi kapal pecah. Barang-barang sablon, papan kaos, aroma cairan afdruk, dan jemuran kain uji coba mulai memenuhi berbagai sudut rumah.

Melihat kondisi tersebut, Babe akhirnya turun tangan. Namun bukannya marah, ayah Bany dan Jon itu justru memberikan solusi yang tidak kalah out-of-the-box. Salah satu sekat rumah kontrakan miliknya yang sedang kosong dipersilakan untuk dipakai sebagai markas eksperimen.

Tanpa perlu membayar sewa tempat, seluruh "pabrik" dadakan itu pun dipindahkan ke kontrakan milik Babe.

Dari yang tadinya hanya sebuah band indie asal Depok yang sedang kekurangan personel, kini Uprealband secara tidak sadar telah memiliki sebuah workshop konveksi rumahan sendiri.

Pertanyaan besarnya, apakah eksperimen nekat di dalam kontrakan Babe ini bakal berhasil menghasilkan kaos band yang keren?

Atau jangan-jangan, Uprealband malah semakin tersesat dan lebih nyaman menjadi tukang sablon daripada musisi?


Tokoh

  • Bany
  • Jon
  • Obhik
  • Dewa
  • Wawan
  • Babe

Tempat

  • Depok
  • Akses UI
  • Kontrakan Babe

Tahun

  • 2004

Topik

  • Band indie Indonesia
  • Band indie Depok
  • Sablon manual
  • Konveksi rumahan
  • Akses UI
  • Workshop
  • Musik Indonesia
  • Era 2000-an
  • Uprealband

Navigasi Track

⬅️ Track 03 - Sersan (Serius Tapi Santai) Alur Tersasar

➡️ Track 05 - Ekspedisi Cipulir dan Orderan Perdana MEIWA