PERJALANAN UPREALBANDDOCUMENTATION · DEPOK · SINCE 2004
BAB 06 / 31PERJALANAN UPREALBAND
TRACK 06

track-06-kontrakan-makin-sempit-dan-kembalinya-sebuah-tanda

Tahun 2004. Waktu silih berganti. Di tengah kesibukan menggesut kain, Ahenk tiba-tiba datang kembali ke kontrakan Babe membawa kabar yang bikin Bany dan Jon melongo. Ternyata, kaos yang dibawa Ahenk ke pabrik MEIWA bukan cuma laku, tapi malah banjir repeat order.

Beberapa divisi di pabrik tersebut mendadak tertarik membeli dalam jumlah besar untuk dipakai sebagai seragam pada hari-hari tertentu. Situasi ini terasa sangat aneh bagi Bany dan Jon. Namun, yang jauh lebih kocak dan absurd adalah kenyataan bahwa para buruh pabrik MEIWA sama sekali tidak tahu kalau tulisan @up-real di dada mereka sebenarnya adalah nama sebuah band indie asal Depok. Mereka murni membeli karena mengira itu adalah merek kaos distro keren yang sedang tren.

Demi melayani konsumen pabrik yang makin banyak tuntutan, otak kreatif Bany dan Jon kembali berputar. Kali ini urusannya melompat ke masalah packaging. Biar terlihat profesional dan estetik ala distro mahal, mereka merancang kemasan yang terdiri dari stiker dan paper bag khusus bertuliskan @up-real production.

Urusan modal lagi-lagi disiasati dengan sangat kreatif. Bahan dasar paper bag tersebut memanfaatkan kertas kue warna cokelat yang agak tebal, lalu di atasnya disablon logo mereka dengan tinta merah menyala. Perpaduan warna cokelat dan merah itu justru memberikan kesan eksklusif dan vintage.

Masalahnya, menyablon di atas media plastik atau kertas membutuhkan keahlian dan perlengkapan yang berbeda dengan sablon kaos. Bany akhirnya memanggil tetangganya yang sudah lebih berpengalaman dalam urusan tersebut. Maklum, sablon media seperti ini membutuhkan presisi tinggi karena timing pencampuran pasta sablon sangat sensitif. Kalau eksekusinya telat sedikit saja, pasta bisa cepat mengering di atas screen dan menyumbat pori-porinya hingga rusak.

Melihat lini usaha dadakan ini semakin serius, mereka akhirnya resmi menamai bisnis konveksi rumahan tersebut dengan nama @up-real production.

Biar penampilan workshop mereka tidak kalah dengan distro-distro besar di Bandung, area luar kontrakan pun ikut dirombak. Krey bambu yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai penghalau panas langsung diturunkan. Menggunakan sisa tinta yang ada, krey tersebut dicat ulang dengan logo yang sama: @up-real.

Begitu dipasang kembali, krey bambu itu sukses menyulap fasad kontrakan sederhana menjadi sebuah home industry yang memiliki karakter kuat.

Kesibukan mendadak naik level ketika Ahenk membawa kabar bahwa beberapa perwakilan karyawan dari pabrik MEIWA yang penasaran berencana datang langsung ke kontrakan untuk melihat proses produksinya.

Mendengar kabar itu, Bany dan Jon langsung putar otak. Sebagai anak band yang terbiasa mengonsep pertunjukan, mereka tahu betul bahwa visual adalah salah satu kunci untuk meyakinkan orang. Mereka tidak mau calon pembeli dari pabrik MEIWA datang hanya untuk melihat tumpukan kain perca di ruangan sempit. Harus ada sesuatu yang bisa dipamerkan.

"Jon, kita harus bikin buku katalog," cetus Bany mendapat ide darurat.

Lagi-lagi dengan semangat irit biaya dan memanfaatkan aset lingkungan sekitar, Bany meminta bantuan Nita, seorang tetangga mereka, untuk menjadi foto model dadakan kaos @up-real. Dengan modal kamera seadanya dan arahan gaya yang sederhana, sesi pemotretan pun dilakukan.

Setelah sesi foto selesai, Obhik langsung mengambil alih urusan cetak-mencetak di komputer. Hasil foto Nita yang sedang mengenakan kaos buatan mereka dicetak dengan kertas seadanya, lalu disusun rapi menjadi sebuah buku katalog darurat.

Di tengah persiapan menyambut orang-orang dari pabrik MEIWA, sebuah peluang besar datang dari arah yang tak terduga. Seorang tetangga yang berprofesi sebagai guru sekolah membawa penawaran menarik. Sekolah tempatnya mengajar sedang merencanakan acara tour perpisahan dan membutuhkan kaos seragam dalam jumlah besar. Proyek tersebut pun ditawarkan kepada @up-real production.

"Mau gak, Uprealband ngegarap proyek kaos perpisahan ini?" tanyanya.

Tanpa pikir panjang, kesempatan emas itu langsung diambil dan dikerjakan dengan serius. Skalanya tidak main-main. Pesanan datang untuk satu angkatan siswa SMP.

Kontrakan Babe mendadak berubah menjadi pabrik kecil yang beroperasi penuh. Karena volume pekerjaan yang melonjak drastis, Dewa yang setia membantu sejak awal akhirnya menerima fee pertamanya. Hitungannya sederhana dan adil, yaitu berdasarkan jumlah kaos yang berhasil dikerjakan.

Proyek besar tersebut sukses dan menjadi bukti bahwa konveksi rumahan mereka benar-benar bisa menghasilkan uang.

Barulah setelah euforia proyek sekolah itu berakhir, di saat kontrakan Babe semakin sesak oleh meja afdruk, kaos polos, rak jemuran, gulungan kertas kue cokelat, stiker, buku katalog, dan sisa-sisa kejayaan proyek kaos perpisahan, sebuah kabar mengejutkan datang dari Dewa.

Teman pengamen tersebut memberi tahu bahwa belum lama ini ada sebuah drum bekas yang terlanjur terjual kepada orang lain dengan harga yang sangat murah.

Mendengar kata "drum", naluri bermusik Bany yang sempat tertidur seakan langsung tersengat.

Tanpa pikir panjang, Bany meminta Dewa melacak pembeli sebelumnya.

"Tolong coba dibeli kembali dari pembeli sebelumnya, Bro. Rayu aja dulu," pinta Bany.

Lewat proses negosiasi yang cukup alot, keberuntungan kembali berpihak kepada mereka. Drum bekas tersebut berhasil ditebus dan langsung diboyong masuk ke markas sablon.

Kini, satu set drum fisik berdiri gagah di salah satu sudut kontrakan, bersanding dengan meja tempat buku katalog foto Nita dipajang.

Siapa pun yang melihat pemandangan itu mungkin akan geleng-geleng kepala.

Tempatnya sudah sempit dan dipenuhi alat-alat sablon serta tumpukan kemasan, tetapi kini sebuah drum utuh justru ikut mengambil ruang di tengah-tengahnya.

Apakah ini pertanda bahwa naluri bermusik mereka memang menolak mati di tengah cuan konveksi yang semakin menjanjikan setelah proyek sekolah dan pabrik MEIWA?

Dan yang paling penting, jika orang-orang dari pabrik MEIWA benar-benar datang berkunjung, apa reaksi mereka saat melihat workshop sederhana milik Uprealband itu?


Navigasi Track

⬅️ Track 05 - Ekspedisi Cipulir dan Orderan Perdana MEIWA

🏠 Kembali ke Beranda