track-14-test-sound-tanpa-ac-dan-eksperimen-plugin
Pelan-pelan, setelah cat dan pernis lantai kayunya benar-benar mengering, satu per satu alat musik mulai masuk ke ruang studio utama. Drum mulai masuk, disusul bass dan gitar elektrik. Kebetulan Obhik waktu itu sudah punya gitar elektrik Fender Stratocaster yang kelak lebih sering dipakai Jon Fadly.
Tidak lama kemudian, Gerry datang membawa amplifier rakitan yang sebelumnya dibuat melalui temannya, hehehe... Kabel-kabel audio mulai dipasang oleh Obhik. Speaker monitor rakitannya sendiri juga mulai dipasang dan dites seperlunya.
Sementara itu, crew lainnya sibuk bikin rak-rak dari papan untuk diletakkan di toilet sisi studio yang dialihfungsikan menjadi gudang alat-alat sablon. Maklum, bangunan ini awalnya satu rumah yang disekat menjadi dua kontrakan, jadi otomatis punya dua toilet. Pelan-pelan sisi yang tadinya dipakai untuk rumah produksi sablon mulai dibenahi agar nantinya cocok dijadikan ruang tamu sekaligus ruang tunggu studio.
Bany juga teringat kalau sewaktu masih sibuk jadi ketua Karang Taruna di lingkungan RT, dirinya pernah membuat papan mading yang sekarang sudah jarang dipakai. Akhirnya papan itu dipindahkan ke depan studio. Rencananya sih buat naruh info event sama jadwal booking studio kalau nanti sudah mulai beroperasi.
Di sisi ruang operator, Obhik juga gak bisa diam. Dia sibuk membuat meja komputer yang ukurannya disesuaikan dengan ruang yang tersedia. Lengkap dengan tatakan keyboard yang bisa ditarik ala meja komputer zaman itu, hihi. Komputer pun akhirnya dipasang.
Dan tibalah saat yang ditunggu-tunggu.
Bany, Jon, dan Gerry, walaupun tanpa Apoy yang saat itu masih mudik, akhirnya mulai melakukan test sound pertama bersama Obhik yang kebagian duduk di belakang drum. Saat itu belum ada AC, hahaha... cuma modal kipas angin. Bahkan kadang-kadang debu sisa pembangunan masih suka beterbangan.
Tapi namanya juga Obhik, orangnya gak bisa diam. Kadang latihan malah berhenti gara-gara dia lagi penasaran. Gitar dicoba masuk ke komputer pakai plugin, lalu bass ikut dicoba, mic vokal juga dicoba macam-macam. Pokoknya masa-masa itu benar-benar diisi berbagai eksperimen dan simulasi.
Kondisi @UP-REAL Studio tahun 2005. Saat itu ruangan masih belum menggunakan AC dan masih sangat sederhana, foto diambil tanggal 26 Maret 2005.
Sampai suatu hari Jon nyeletuk,
"Kayaknya memang sudah waktunya beli AC ini, guys."
Dan ternyata dia serius, wkwkwk...
Tidak lama kemudian Jon benar-benar membeli AC. Beberapa hari berikutnya, tukang AC datang memasangnya dan studio pun dibersihkan besar-besaran.
Setelah semuanya beres, Obhik cuma bilang santai,
"Kayaknya sudah bisa nih buat latihan, guys. Toh kita-kita sudah ngetes bareng kemarin khan."
Mendengar itu, anak-anak Uprealband dan crew pun mulai memikirkan hal berikutnya. Kalau studio sudah siap dipakai, berarti sudah waktunya menentukan aturan main dan harga sewanya.
Saat itu ruangan masih belum menggunakan AC.
Terlihat sebuah kipas angin berdiri yang menjadi andalan penghuni studio saat itu.
Di lantai juga terlihat logo besar @UP-REAL yang menjadi ciri khas studio pada masa awal.
sedang berkumpul, berdiskusi, dan membahas lagu-lagu mereka.
Dan mungkin memang seperti itulah sebagian besar waktu yang dihabiskan Uprealband pada masa-masa awal.
Hahaha...

Yuk, intip kelanjutannya di halaman berikutnya....
Navigasi Track
⬅️ Track 13 - UP-REAL Studio dan Logo di Atas Lantai
🏠 Kembali ke Beranda